Skip to main content

Tanggapan dan Bantahan Terhadap Tulisan Abul Jauzaa : Salah Paham tentang Thoghut

Ust Abul Jauzaa, telah banyak menulis di dalam blognya berbagai hal tentang dinul islam. Tulisan beliau bagus sekali bagi seseorang yang haus akan ilmu. Beliau Ust. Abul Jauzaa yang kami mengenal beliau dalam berbagai tulisanya sangat menarik menyampaikan dalil, dan menukil dalil dari ulama yang mungkin kita pernah mendengarnya. Beliau sangat pandai dalam bermain kata-kata dan memberikan penafsiran-penafsiran tentang apa yang ditulis oleh sebagian orang yang mencoba mengoreksinya.


Jika seseorang lebih mendahulukan emosi dalam berdialog, maka akan timbul beberapa hal yang akan menyakiti orang lain, sehingga kata-kata takfiri, khawarij, murji'ah, sering kali terlempar tanpa melakukan perincian yang benar terhadap istilah tersebut. Inilah yang membuat seseorang terjebak dalam kesombongan dan kecongkakan ilmu karena merasa pendapatnya itu yang paling benar dan yang lain patut kandas. Maka terjadinya benturan-benturan dalam sebuah dialog itu sangat mungkin terjadi, sehingga penulis artikel pun mesti menyadari hal itu dan memberikan jawaban yang baik dalam setiap pertanyaannya tanpa emosi. Ust. Abul Jauzaa senantiasa menjawab semua pertanyaan dengan kata-kata beliau yang lincah kesana kemari dalam memberikan kesimpulan sehingga terlihat bagus sekali.






SALAH PAHAM TENTANG THOGHUT
Salah satu tulisan yang pernah beliau tulis adalah SALAH PAHAM TENTANG THOGHUT. Tulisan ini memang memiliki bobot keberanian penulisnya dalam memunculkan suatu polemik kepada khalayak ramai. Mungkin beberapa dari anda sangat setuju dengan tulisan beliau ini, tetapi beberapa dari anda merasa sedih, gak karuan dengan syubhat yang ditimbulkan dari tulisan artikel tersebut. Orang sekelas abul jauzaa pasti menimbang dan menimang materi tersebut layak atau tidak untuk diterbitkan, sehingga menjadi ilmu bagi siapa yang membacanya.



Apabila kalian masih belum tahu tulisan beliau berkenaan tentang itu, silahkan cek DISINI 



Beliau Ust. Abul Jauzaa pernah menyarankan kepada pembaca untuk membaca artikel yang beliau tulis dan menyarankan untuk memahami artikel yang beliau tulis, kepada para komentator. Nah, pada kesempatan kali ini, mohon ust. abul jauzaa memutar video di bawah ini.









Setelah menyimak video di atas, apa tanggapan kalian ya akhi??

BENARKAH TIDAK SEMUA THOGHUT ITU KAFIR???
Rekan-rekan,... dari sini kita dapat tahu kekeliruan orang-orang takfiriy itu. Tidak semua yang disebut thaaghuut itu adalah kafir.

Perkataan itu adalah kesimpulan yang ust abul jauzaa sendiri yang menyimpulkan dan berpendapat. Terbukti dalam tulisan beliau, beliau tidak mencantumkan secara tekstual bahwa ulama ada yang berkata secara persis TIDAK SEMUA YANG DISEBUT THOOGHUUT ITU ADALAH KAFIR. Hanya saja beliau merujuk tentang perkataan ulama tentang definisi THOOGHUUT, lalu beliau menyimpulkan seperti itu.


#Pertama pintar sekali ust. abul jauzaa memberikan contoh uraian kepada kita semua, bahwa memang benar thoghut itu ada yang berupa makhluk hidup dan ada yang merupakan benda mati. Memang demikian halnya, ulama menyebutkan tentang definisi thoghut memang ada yang berupa makhluk hidup dan ada yang berupa patung dalam mewakili benda mati.

#Kedua, Ketika beliau merujuk pada pembicaraan tentang thoghut pada makhluk hidup (orang yang berhukum dengan selain hukum alloh) tidak semuanya kafir, Pernyataan beliau ini memang benar, karena memang ada rincianya. Tetapi rincian yang bagaimana? mari kita simak sebentar komen-komen yang ada di blog abul jauzaa.
Akhirnya pun timbul komentar seperti di bawah ini:


Tentang makna bahwa tidak semua Thoghut bisa dikafirkan memang betul, jika merujuk pada pengertian yang telah diberikan oleh salaf ummah.

Akan tetapi tentulah kita akan salah kaprah jika tidak mendasarkan pada pengertian yang paling lengkap terhadap masalah ini, sebagai contoh dalam alquran,

"yuriduna an yatahakamu ila attthoghuut..."

mungkinkah thogut yg dimaksud adalah patung atau hal2 lain yg tdk pny kemampuan??


Tentu tidak!! Oleh karena itu kita seharusnya memakai ta'rif yang paling lengkap sehingga kita dapat menempatkannya disetiap kondisi dari pemakaian kita tsb...spt pengertian ibnu wahhab dan ibn qoyyim akan sangat tepat buat diterapkan disegala keadaan.

Dari Tulisan antum di atas yg jelas terlihat adalah bahwa antum keberatan dengan vonis takfir pada makhluk yang tidak berhukum dengan hukum Alloh meskipun untuk mencapai maksud tersebut, Antum keliling kota dulu dengan bawa penafsiran makna thoghut menurut ulama, Sedangkan telah jelas bhw salah satu makna thoghut adalah yg tdk berhukum dg hukmullah shg cap kafir golongan yg antum sebut takfiri tnt tdk lepas dr dalil2 yg sorih dan pendapat ulama yg diakui sbg ulama ahli sunnah.


Seharusnya menempatkan kata thoghut harus sesuai makna dalam ayatnya mas, kenapa anda kalau udah giliran thoghut pake merincinya dg detail sampai2 spt memaksakan makna bgmn caranya spy penguasa yg tdk berhukum dg hukum sareat itu thoghut yg belum tentu kafir...giliran menggelari takfiri knp tdk anda rinci?? Knp anda tdk blg bhw yg mengkafirkan juga belum tentu takfiri?? Dr bahasa anda sdh jelas bhw anda keberatan jika yg berhukum dg selain hukmullah disebut sbg thoghut yg kafir murtad


Menurut komentar di atas, abul jauzaa memang muter-muter kesana kemari untuk menguatkan pendapatnya bahwa orang yang tidak berhukum dengan hukum alloh itu tidak semuanya kafir. Dilihat dulu dari Istihlal dan Tabdilnya. Lalu beliau dengan tulisanya yang panjang berpatokan bahwa tidak semua orang yang berhukum dengan selain hukum alloh itu adalah kafir. Karena patokan, pijakan yang mungkin dari seseorang berbeda-beda, maka betapa pun pendapatnya yang panjang akan muter begitu saja kepada patokan dan pijakan awalnya, padahal kenyataanya tidak demikian.


Beliau hendak menyamakan kasus yang terjadi pada sahabat ali bin abi tholib, dengan realita di zaman sekarang. Oh, darimana persamaan itu muncul?? kalaut tidak dari syubhat yang sengaja dihembuskan untuk mengkondisikan sekarang itu sama dengan pada zaman ali bin abi tholib. Lantas alasan pun bermacam-macam, mulai dari Tabdil, Istihlal, Perincian kekafiran, dan Darul Islam.


Anda menulis "Yang saya katakan adalah : Tidak setiap thaghut itu adalah kafir. Atau lebih jelasnya, ada thaghut yang kafir, ada pula yang tidak kafir" Dari sekian banyak ulama yang menjelaskan tentang thoghut, mana dari mereka yang mengambil kesimpulan seperti yang Anda tulis..apakah mereka bodoh tidak mengetahui seperti yang Anda ketahui? 

Apakah mereka bodoh tidak mengetahui ada macam thoghut dari makhluk / benda mati sehingga mereka tidak mengambil kesimpulan seperti yang Anda tulis? Apakah masih kurang penjelasan para ulama di kitab2 mereka, sehingga kita perlu menambahkan pendapat baru? Kemudian yg saya tangkap dari artikel anda..thoghut dari benda mati dan thoghut dari para pelaku dosa besar, anda samakan dengan thoghut dalam hukum..bukankah kita tahu bahwa thoghut dlm hukum itu malahan termasuk salah satu dari 5 pentolan2 thoghut dan salah satu amalan pembatal keimanan sbagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab? Mungkin maksud anda adalah thoghut dari benda mati tidak bisa dikatakan kafir..


Ust Abul Jauzaa semoga pernah membaca dengan seksama bagaiamana cara kufur kepada thoghut. Dengan alasan yang beliau sendiri tidak bisa membuktikan, dan dengan alasan masih berprasangka baik atas kenyataan yang ada di depan mata, beliau masih memberikan pertolongan kepada orang yang tidak berhukum dengan hukum alloh.



Pertanyaan saya :
1. 5 Pentolan2 thoghut yang disebutkan Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab itu semuanya berkenaan dengan benda mati atau mereka makhluk hidup?

 2. Benda mati kena beban syariat ga? sehingga bisa dikatakan mu'min atau kafir.. kemudian saya ulangi lg pertanyaan saya diatas "apakah mereka bodoh tidak mengetahui seperti yang Anda ketahui? Apakah mereka bodoh tidak mengetahui ada macam thoghut dari makhluk/benda mati sehingga mereka tidak mengambil kesimpulan seperti yang Anda tulis? bahwa tdk semua thoghut itu kafir?"

Saya tidak mengerti dengan Abu Al-Jauzaa'.... memaksa berbagai hal dengan membawa berbagai dalil untuk membela Negara yang sudah jelas menolak berhukum kepada hukum Allah, bahkan berusaha bersekutu dengan mereka melawan para Mujahidin yang memeranginya... menuduh khawariz dan Takfirin, tapi tidak ada satu dalilpun dalam mengomentari NKRI yang melegalkan maksiat dan bid'ah, bahkan tidak ada komentar sedikitpun ketika pemerintah Jahil ini bersekutu dengan Amerika. Apakah Abu Al Jauzaa' pernah berteriak sekencang ini (seperti dalam blog ini) di mimbar atau dunia maya dalam mengomentari Kekafiran, kedzaliman, kejahiliyahan NKRI ataupun NEgara lainnya yang memakai Hukum Jahiliyah? atau ketika Negara2 itu menindas rakyatnya dengan hukum2 dzalim? atau ketika Negara2 itu memaksa Kaum Muslimin membayar Pajak atau disumpal dengan Riba? atau membiarkan zinah dan khamr dinikmati dengan bebas oleh generasi kaum muslimin?


Beliau ust. abul jauzaa menulis dalam blog ini untuk menunjukkan bahwa tidak semua thoghut itu kafir. Dan kenyataanya memang seperti itu jika dirujuk pada pengertian ulama tentang thoghut yang merupakan benda mati. Tetapi dalam masalah thoghut yang merupakan makhluk hidup, khususnya pada bab orang yang tidak berhukum dengan hukum alloh, terjadilah polemik disini. Beliau juga membahas tentang tabdil, bahwa thooghuut yang dibisa dikafirkan adalah orang yang mengganti syari'at alloh, dan mengaku bahwa syari'at yang dibuat itu dari alloh. Beliau memang benar membahas tentang itu, bahwa tabdil adalah mengganti dengan maksud seperti orang nashrani yang mereka berpendapat fikiran mereka itu dari tuhan mereka. 


Sekarang tinggalkan dulu fitnah orang nashrani tersebut. Kalau demikian makna tabdil hanya bisa dikenakan kepada orang nashrani dan orang yang mirip nashrani. Lantas???


Siapakah Sebenarnya Thoghut itu?

Thoghut adalah segala sesuatu yang dilampaui batasnya oleh hamba, baik itu yang diikuti atau ditaati atau diibadati. Thoghut itu banyak, adapun pentolanya ada 5 diantaranya:

1 Syaithan
2 Penguasa yang zhalim
3 Orang yang memutuskan dengan selain apa yang telah alloh turunkan
4 Orang yang mengaku mengetahui hal yang ghaib selain alloh
5 Orang yang diibadati selain alloh dan dia ridho dengan peribadatan itu.

Itulah pentolan thoghut, lalu apa yang dilakukan terhadap thoghut??

Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat itu seorang rosul (mereka mengatakan kepada kaumnya) : Ibadahlah kepada Alloh dan Jauhi Thoghut. Perintah kufur terhadap thoghut dan iman kepada alloh adalah inti ajaran semua rosul dan pokok dari islam. Lalu Bagaimana caranya kufur kepada thoghut??

Tata Cara Kufur kepada thoghut adalah sebgaimana yang dijabarkan oleh Syaikhul Islam Muhammad Ibu Abdil Wahhab rahimahulloh:

1 Engkau menyakini bathilnya ibadah kepada selain Alloh
2 Engkau meninggalkanya,
3 Engkau membencinya,
4 Engkau mengkafirkan pelakunya
5 Dan engkau memusuhi para pelakunya


Kalau tidak mendapati tulisan yang jelas tentang ulama yang mengatakan secara letterleg bahwa Tidak semua Thoghut Kafir, maka janganlah dilakukan, termasuk juga oleh ust abul jauzaa. Karena menggunakan pendapat-pendapat para ulama tentang definisi thoghut, kemudian disimpulan sendiri, hal itu berbahaya jika kesimpulanya memang tidak pernah dikatakan oleh ulama itu sendiri. Ulama tentu akan meninggalkan pendapatnya dan menyimpulkanya dengan simpulan seperti ust. abul jauzaa jika ust. abul jauzaa itu benar.


Pembahasan, Apakah Negara Islam itu???
Lantas kita telah mengetahui bersama, bahwa  bahwa dasar hukum yang dipakai oleh negara islam adalah al qur'an dan al hadits. Lalu bagaimana jika al qur'an dan as sunnah ini diganti dengan hukum lain, dengan kitab lain. Ingat, tidak hanya hukumnya, tetapi kitabnya juga diganti, maka apa akan dikatakan itu bukan tabdil. Dan itu dipaksakan (baca pemberlakuan hukum selain al qur'an dan al hadits) buktinya? buktinya ada sanksi nya. Itulah bentuk pemaksaan yang hal ini merupakan bentuk penggantian terhadap syari'at islam. Pelegalan atas sesuatu yang diharamkan oleh alloh dan pemberian sanksi kepada orang yang ingin menegakkan syari'at islam, itu merupakan istihlal yang saat ini terdapat dalam realita kehidupan.

Lihatlah dalam tulisan beliau pada materi Darul Islam. Jelas-Jelas 1-13 ulama yang beliau cantumkan di dalam artikel menyebutkan faktor disebut negara islam atau bukan adalah pada hukumnya, sedangkan beliau menyimpulan dengan simpulan yang berbeda, sama sekali tidak menyentuh hukum di dalamnya.

Dari beberapa perkataan ulama di atas, maka benang merah tarjih yang coba ditarik dalam mendefinisikan Daarul-Islam adalah: negeri yang didominasi oleh kaum muslimin dimana negeri tersebut dalam penguasaan mereka.


Ust Abul Jauzaa, menegakkan syari'at alloh itu wajib tidak?? kalau ust. menjawab wajib (bagi yang mampu), kalau tidak mampu alasanya apa ust? Kalau ust. menjawab wajib (setiap muslim wajib menegakkan syari'at islam) menggunakanya dalam kehidupan sehari-hari, maka meninggalkanya merupakan dosa. Karena meninggalkan yang wajib merupakan perbuatan dosa.

Selamatkanlah orang yang saat ini tidak berhukum dengan hukum alloh, tidak menegakkan syari'at islam wahai ust abul jauzaa. Orang yang tidak mau menegakkan syari'at islam, jangan engkau biarkan, malah engkau dukung dengan masih menyebutnya ulil 'amri. Ust. tentu sangat tahu, kita diperintahkan 'amal ma'ruf dan nahi mungkar. Maka jangan menjadi 'amal mungkar nahi ma'ruf. Kalau ust. terus menuliskan seperti itu, maka seseorang tidak akan tahu letak kesalahanya dimana, karena ust, seringkali membelanya.



Istihlal,
Ust. Abul Jauzaa tentu tahu bahwa istihlal, itu bukan berarti berkata "ini halal". Peniadaan sanksi adalah bentuk istihlal oleh seseorang. Misal alloh mensyari'atkan tentang dilarang minum khamr, dilarang berzina. Tetapi sanksi itu ditiadakan di tempat tertentu. Kalau tempat itu resmi dan bayar maka bentuk pelegalan itu merupakan istihlal. Antum mungkin akan membantah, mana buktinya? jika istihlal itu merupakan sama dengan pelegalan??

Sekarang kami tanya, jika orang melegalkan / membolehkan  orang makan siang saat romadhon padahal beliau tidak ada udzur darinya?? apakah itu merupakan istihlal atau bukan?

Sekarang kami tanya, jika orang melegalkan / membolehkan riba, padahal riba itu haram apakah itu merupakan istihlal??

Kalau pembahasan antum tentang istihlal adalah keyakinan di dalam hati?? lalu bagaimana kita akan menilai?? apakah kita hendak menilai abu jahal itu tidak melakukan istihlal, padahal melawan rosululloh?

Jadi pada pembahasan istihlal ini beliau ust abul jauzaa terlalu saklek kepada keyakinan di dalam hati, padahal iman itu adalah keyakinan di dalam hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Beliau membahas tentang istihlal terlalu saklek sehingga menafikkan banyak hal yang ada di dalam realita.  




Penutup,
Ust. Abul Jauzaa, kami juga memberikan kenang-kenangan kepada antum dan kepada orang-orang yang mengikuti tulisan antum.


Iya, kami tahu ust. mengambil pendapat dari beberapa ulama. Ust. Abul Jauzaa tentu memiliki hati yang besar untuk menggali dengan benar makna yang ada dan realita yang ada. Ust, kalau antum


Silahkan Simak Penjelasan para ulama’ berikut, lengkap dengan Maroji’ utamanya sebagai sumber rujukan jika Antum merasa kurang puas….:

Syaikh Muhammad bin Ibrahim dalam risalah beliau Tahkimul Qawanin,

“Sesungguhnya termasuk kafir akbar yang sudah nyata adalah memposisikan undang-undang positif yang terlaknat kepada posisi apa yang dibawa oleh ruhul amien (Jibril) kepada hati Muhammad supaya menjadi peringatan dengan bahasa arab yang jelas dalam menutuskan perkara di antara manusia dan mengembalikan perselisihan kepadanya, karena telah menentang firman Alloh : “…Maka jika kalian berselisih dalam suatu, kembalikanlah kepada Alloh dan Rosul-Nya jika kalian beriman kepada Alloh dan hari akhir…
[Risalatu Tahkimil Qawanin hal. 5].

Beliau juga mengatakan dalam risalah yang sama,
“Pengadilan-pengadilan tandingan ini sekarang ini banyak sekali terdapat di negara-negara Islam, terbuka dan bebas untuk siapa saja. Masyarakat bergantian saling berhukum kepadanya. Para hakim memutuskan perkara mereka dengan hukum yang menyelisihi hukum Al Qur’an dan As Sunah, dengan berpegangan kepada undang-undang positif tersebut. Bahkan para hakim ini mewajibkan dan mengharuskan masyarakat (untuk menyelesaikan segala kasus dengan undang-undang tersebut) serta mereka mengakui keabsahan undang-undang tersebut. Adakah kekufuran yang lebih besar dari hal ini? Penentangan mana lagi terhadap Al Qur’an dan As Sunah yang lebih berat dari penentangan mereka seperti ini dan pembatal syahadat “Muhammad adalah utusan Allah” mana lagi yang lebih besar dari hal ini?”
(Tahkimul Qowanien 20-21)


Syaikh Ahmad Syakir mengomentari perkataan Ibnu Katsir tentang IL-Yasiq yang menjadi hukum bangsa Tartar sebagaimana telah dinukil di depan,
“Apakah kalian tidak melihat pensifatan yang kuat dari Al Hafidz Ibnu Katsir pada abad kedelapan hijriyah terhadap undang-undang postif yang ditetapkan oleh musuh Islam Jengish Khan?
Bukankah kalian melihatnya mensifati kondisi umat Islam pada abad empat belas hijriyah?
Kecuali satu perbedaan saja yang kami nyatakan tadi;

Hukum Ilyasiq hanya terjadi pada sebuah generasi penguasa yang menyelusup dalam umat Islam dan segera hilang pengaruhnya. Namun kondisi kaum muslimin saat ini lebih buruk dan lebih dzalim dari mereka karena kebanyakan umat Islam hari ini telah masuk dalam hukum yang menyelisihi syariah Islam ini, sebuah hukum yang paling menyerupai Ilyasiq yang ditetapkan oleh seorang laki-laki kafir yang telah jelas kekafirannya…. Sesungguhnya urusan hukum positif ini telah jelas layaknya matahari di siang bolong, yaitu kufur yang nyata tak ada yang tersembunyi di dalamnya dan tak ada yang membingungkan. Tidak ada udzur bagi siapa pun yang mengaku dirinya muslim dalam berbuat dengannya, atau tunduk kepadanya atau mengakuinya. Maka berhati-hatilah, setiap individu menjadi pengawas atas dirinya sendiri.”
(Umdatu Tafsir IV/173-174)


Beliau juga mengatakan: “UUD yang ditetapkan musuh-musuh Islam dan mereka wajibkan atas kaum muslimin.. pada hakekatnya tak lain adalah agama baru, mereka membuatnya sebagai ganti dari agama kaum muslimin yang bersih dan mulia, karena mereka telah mewajibkan kaum muslimin mentaati UUD tersebut, mereka menanamkan dalam hati kaum muslimin rasa cinta kepada UU tersebut, mensakralkannya dan fanatisme dengannya sampai akhirnya terbiasa dikatakan melalui lisan dan tulisan kalimat-kalimat ” Pensakralan UUD”, ” Kewibawaan lembaga peradilan ” dan kalimat-kalimat semisal. Lalu mereka menyebut UUD dan aturan-aturan ini dengan kata “fiqih dan faqih” “tasyri’ dan musyari’ ” dan kalimat-kalimat semisal yang dipakai ulama Islam untuk syariah Islam dan para ulama syariah.”
(Umdatu Tafsir 3/124, secara ringkas. Dinukil dari Nawaqidhul Iman Al Qauliyah wal ‘Amaliyah hal. 315, Dr. Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali Alu Abdul lathif, Daarul Wathan, 1414 H)


Syaikh Muhammad Al-Amien Asy Syinqithi dalam tafsirnya ketika menafsirkan firman Alloh, “Dan tidak mengambil seorangpun sebagai sekutu Alloh dalam menetapkan keputusan.” [QS. Al Kahfi :26] dan setelah menyebutkan beberapa ayat yang menunjukkan bahwa menetapkan undang-undang bagi selain Allah adalah kekafiran, beliau berkata, “Dengan nash-nash samawi yang kami sebutkan ini sangat jelas bahwa orang-orang yang mengikuti hukum-hukum positif yang ditetapkan oleh setan melalui lisan wali-wali-Nya, menyelisihi apa yang Alloh syari’atkan melalui lisan Rasul-Nya. Tak ada seorangpun yang meragukan kekafiran dan kesyirikannya, kecuali orang-orang yang telah Allah hapuskan bashirahnya dan Allah padamkan cahaya wahyu atas diri mereka.”
( Adhwaul Bayan IV/92 )


Beliau Rahimahullah juga menjelaskan bahwa : “Berbuat syirik kepada Alloh dalam masalah hukum dan berbuat syirik dalam masalah beribadah itu maknanya sama, sama sekali tak ada perbedaan antara keduanya. Orang yang mengikuti UU selain UU Alloh dan tasyri’ selain tasyri’ Alloh adalah seperti orang yang menyembah berhala dan sujud kepada berhala, antara keduanya sama sekali tidak ada perbedaan dari satu sisi sekalipun,. Keduanya satu (sama saja) dan keduanya musyrik kepada Alloh.”
 (Al Hakimiyah fie Tafsiri Adhwail Bayan, karya Abdurahman As Sudais hal. 52-53, dengan ringkas, lihat juga Adhwaul Bayan 7/162)

Syaikh Shalih bin Ibrahim Al Bulaihi dalam hasyiyah beliau atas Zadul Mustaqni’, yang terkenal dengan nama Al Salsabil fi Ma’rifati Dalil, mengatakan, “…Berhukum dengan hukum-hukum positif yang menyelisihi syari’at Islam adalah sebuah penyelewengan, kekafiran, kerusakan dan kedzaliman bagi para hamba. Tak akan ada keamanan dan hak-hak yang terlindungi, kecuali dengan dipraktekkanmya syariah Islam secara keseluruhannya; aqidahnya, ibadahnya, hukum-hukumnya, akhlaknya dan aturan-aturannya. Berhukum dengan selain hukum Alloh berarti berhukum dengan hukum buatan manusia untuk manusia sepertinya, berarti berhukum dengan hukum-hukum Thaghut…tak ada bedanya antara ahwal sakhsiah (masalah nikah,cerai, ruju’–pent) dengan hukum-hukum bagi individu dan bersama… barang siapa membeda-bedakan hukum antara ketiga hal ini, berarti ia seorang atheis, zindiq dan kafir kepada Allah Yang Maha Agung.”
( As Salsabil II/384 )

Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam risalah beliau “Naqdu Al Qaumiyah Al ‘Arabiyah ” (Kritik atas nasionalisme Arab) mengatakan, “Alasan keempat yang menegaskan batilnya seruan nasionalisme arab : seruan kepada nasionalisme arab dan bergabung di sekitar bendera nasionalisme arab pasti akan mengakibatkan masyarakat menolak hukum Al Qur’an. Sebabnya karena orang-orang nasionalis non muslim tidak akan pernah ridha bila Al Qur’an dijadikan undang-undang. Hal ini memaksa para pemimpin nasionalisme untuk menetapkan hukum-hukum positif yang menyelisihi hukum Al Qur’an . Hukum positif tersebut menyamakan kedudukan seluruh anggota masyarakat nasionalis di hadapan hukum. Hal ini telah sering ditegaskan oleh mereka. Ini adalah kerusakan yang besar, kekafiran yang nyata dan jelas-jelas murtad.” ( Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawi’ah lisyaikh Ibni Baz I/309)


Syaikh Abdullah bin Humaid mengatakan, “Siapa menetapkan undang-undang umum yang diwajibkan atas rakyat, yang bertentangan dengan hukum Alloh ; berarti telah keluar dari milah dan kafir.”
(lihat Ahamiyatul Jihad Fi Nasyri Ad Da’wah hal. 196, D. ‘Ali Nufai’ Al ‘Ulyani )


Syaikh Muhammad Hamid Al Faqi dalam komentar beliau atas Fathul Majid mengatakan, “Kesimpulan yang diambil dari perkataan ulama salaf bahwa thaghut adalah setiap hal yang memalingkan hamba dan menghalanginya dari beribadah kepada Allah, memurnikan dien dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya…Tidak diragukan lagi, termasuk dalam kategori thaghut adalah berhukum dengan hukum-hukum asing di luar syari’at Islam, dan hukum-hukum positif lainnya yang dtetapkan oleh manusia untuk mengatur masalah darah, kemaluan dan harta, untuk menihilkan syari’at Allah berupa penegakan hudud, pengharaman riba, zina, minuman keras dan lain sebagainya. Hukum-hukum positif ini menghalalkannya dan mempergunakan kekuatannya untuk mempraktekkannya. Hukum dan undang-undang positif ini sendiri adalah thaghut, sebagaimana orang-orang yang menetapkan dan melariskannya juga merupakan thaghut…”
(Fathul Majid hal. 337, Daarul Fikr, 1412 H )


 Beliau juga menyatakan dalam Fathul Majid saat mengomentari perkataan Ibnu katsir tentang Ilyasiq, “Yang seperti ini dan bahkan lebih buruk lagi adalah orang yang menjadikan hukum Perancis sebagai hukum yang mengatur darah, kemaluan dan harta manusia, mendahulukannya atas kitabullah dan sunah Rasulullah. Tak diragukan lagi, orang ini telah kafir dan murtad jika terus berbuat seperti itu dan tidak kembali kepada hukum yang diturunkan Allah. Nama apapun yang ia sandang dan amalan lahir apapun yang ia kerjakan baik itu sholat, shiyam dan sebagainya, sama sekali tak bermanfaat ba-ginya…”.

(Fathul Majid hal. 477. )

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan, “Barang siapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Alloh karena menganggap hukum Allah itu sepele, atau me-remehkannya, atau meyakini bahwa selain hukum Allah lebih baik dan bermanfaat bagi manusia, maka ia telah kafir dengan kekafiran yang mengeluarkan dari milah. Termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang menetapkan untuk rakyatnya perundang-undangan yang menyelisihi syari’at Islam, supaya menjadi sistem perundang-undangan negara. Mereka tidak menetapkan perundang-unda-ngan yang menyelisihi syari’at Islam kecuali karena mereka meyakini bahwa perundang-undangan tersebut lebih baik dan bermanfaat bagi rakyat. Sudah menjadi askioma akal dan pembawaan fitrah, manusia tak akan berpaling dari sebuah sistem kepada sistem lain kecuali karena ia meyakini kelebihan sistem yang ia anut dan kelemahan sistem yang ia tinggalkan.”
(Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Ibnu Utsaimin II/143 )


Memang terdapat beberapa perbedaan pendapat dikalangan Ulama Ahli Sunnah dalam permasalahan Pengkafiran terhadap Pembuatan dan penetapan Hukum buatan manusia yang mengabaikan Hukum Alloh Subhanahu wa ta’ala.

Sebagaimana yang antum memilih memegangi pendapat Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani sebelumnya sbb : “….. Kemudian beliau berbicara tentang tafsir Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu yang oleh Muhammad Quthb dan pengikutnya berusaha dijadikan sebagai sifat khusus bagi para khalifah Bani Umayyah! Syaikh al-Albani berkata:
“Sepertinya Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu mendengar persis seperti yang sering kita dengar sekarang ini bahwa ada beberapa oknum yang memahami ayat ini secara zhahir saja tanpa diperinci. Maka beliau Radhiyallahu ‘anhu berkata : ‘Bukan kekufuran yang kalian pahami itu! Maksudnya bukan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama, namun maksudnya adalah ‘kufrun duna kufrin’ (yaitu kekufuran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama -pent-)….”

(Monggo-monggo saja kalau itu pilihan Antum, tetapi Ana sarankan alangkah baiknya jika kita memilih pendapat yang lebih kuat dari jumhur Ulama yang lain jika kita memang mendapatinya, sebagaimana yang telah kami Uraikan diatas…!)


Comments

Popular posts from this blog

ATM BNI, Cara menggunakan ATM BNI, Langkah-langkah ambil uang di ATM BNI, Cara Transfer di ATM BNI

ATM merupakan 3 huruf yang akrab sekali di kalangan mahasiswa, atau seseorang yang supersibuk dengan mobilitas tinggi dalam transaksi jarak jauh. ATM seringkali menjadi tempat pilihan bagi setiap orang yang menginginkan transaksi mudah dan cepat, serta tidak perlu sibuk-sibuk menunggu di gedung resmi bank, atau tidak perlu juga berhadapan dengan SATPAM, yang selalu ramah menyapa nasabah, tidak perlu cermat dalam melihat nomor antrian dll. ATM merupakan Automatic Teller Machine, yang menjadi perwakilan bank dalam melayani anda dimanapun anda berada.  


ATM BNI
ATM BNI kerapkali kita temui sebagai ATM yang memiliki corak yang khas dengan warna dominan orange dan hijau. ATM BNI ini merupakan salah satu fasilitas yang diadakan oleh BANK BNI ataupun BNI syari'ah untuk melayani nasabahnya dalam kemudahan bertransaksi.
Untuk sementara ini, seluruh ATM BNI yang dipakai dapat dilakukan transaksi yang berhubungan dengan BNI konvensional, dan BNI syari'ah serta beberapa bank yang masuk ker…

ATM BRI | Cara Menggunakan ATM BRI | Langkah-langkah mengambil uang di ATM BRI | Cara Transfer melalui ATM BRI

ATM BRI merupakan salah satu fasilitas yang dibikin oleh BANK BRI untuk mempermudah nasabah dalam mengambil uang atau transfer kapan pun,, dimanapun selama ada ATM BRI hal itu dapat dilakukan.


Sudah banyak dari kita mengetahui apa itu ATM, apa Kepanjangan ATM, maka dalam pembahasan kali ini kami tidak akan mengulanginya lagi,, karena singkatan ATM begitu tidak asing lagi di telinga kita. 



Cara Mengambil uang melalui ATM BRI Masukkan kartu ATM AndaPilih Bahasa,(Tips Aman Bertransaksi di ATM) Tekan LANJUTKANMasukkan PIN AndaPilih Nominal Uang yang anda ingin ambil, jika pilihan uang yang anda ambil tidak ada, pilih Transaksi LAINYA.





1.) Masukkan Kartu ATM BRI Anda,

Perhatikan arah memasukkan Kartu BRI Anda,, kurang lebih lihat foto di bawah ini,, Jika anda salah / keliru dalam memasukkan, maka otomatis mesin akan menolak kartu anda. Tetapi jika anda benar dalam mengarahkan masuknya kartu ke mesin ATM BRI,, maka anda akan mendapati 2 kemungkinan,, kemungkinan pertama kartu anda akan mudah …

Informasi Transportasi: Rute Perjalanan Bus Harapan Baru Banyuwangi-Trenggalek; dan Informasi Tarif

Bus Harapan Baru  ada mempunyai trayek perjalanan antara Trenggalek - Banyuwangi. Artikel tentang Informasi Transportasi kali ini saya tulis perihal informasi yang saya punya tentang rute perjalanan Bus Harapan Baru Trenggalek-Banyuwangi. Kita telah mengetahui bersama, bahwa informasi tentang alat transportasi itu sangat penting untuk diketahui oleh pemudik. Pengetahuan tentang informasi sebuah alat transportasi membuat pemudik lebih siap dalam mengarungi perjalananya seperti menyiapkan jumlah uang yang harus dibawa, kemana dia harus turun, serta memperkirakan lamanya perjalanan.



Bagi kalian para mahasiswa yang kuliah di Jember (Unej) dan sekitarnya..maka nama bus ini mungkin tidak asing lagi kedengarannya.. terutama bagi mahasiswa yang berasal dari Trenggalek, Tulungagung, Blitar, dan sekitarnya. Karena bagi anda terdapat 2 pilihan perjalanan dengan menggunakan bus atau menggunakan kereta api. Kalau anda menggunakan bus, anda bisa memakai Bus Harapan Baru, atau bisa juga memakai Bus …